Langsung ke konten utama

Dari Yogya Untuk Palestina

Gelanggang Mahasiswa, Jumat (30/3) ramai oleh aktivis dakwah kampus. Hall Gelanggang dipenuhi bendera Palestina yang berkibar di setiap sudut. Sebuah spanduk bertuliskan Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) bersama  Jamaah Shalahuddin (JS) mendukung Global March to Jerussalam (GMJ). Selembar kain hitam terlihat dibentangkan di tengah hall sebagai pembatas tempat duduk perempuan dan laki-laki. Suara takbir bergemuruh.
GMJ merupakan sebuah gerakan long march yang dilakukan oleh sekitar dua juta orang dari seluruh dunia di perbatasan Yordania-Palestina sebagai aksi damai mendukung pembebasan Palestina. Aksi ini juga didukung oleh sekitar empat puluh pemimpin dunia.
Di Yogyakarta, Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dari seluruh kampus juga mendukung GMJ. “Awalnya kami juga berniat melakukan aksi long march namun situasinya kurang memungkinkan sehingga dipindah ke Gelanggang,” kata Zamilatus Zahra, Penanggung Jawab Acara. Hal ini karena momentumnya bersamaan dengan aksi massa terkait isu penaikan harga BBM.
Rangkaian acara ini diawali dengan salat Jumat yang rencananya bersama Busyro Muqaddas sebagai khatib namun dia berhalangan hadir. Acara berikutnya diisi pembacaan puisi untuk semakin menggelorakan semangat membebaskan Palestina. Setelah itu, beberapa orang aktifis dakwah kampus melakukan orasi untuk membakar semangat peserta.
Tears of Gaza, film dokumenter karya Vibeke Lokkeberg yang menggambarkan kehidupan di Gaza ditayangkan sebagai inti acara siang itu. Dalam film ini, dihadirkan tiga orang anak Gaza, Amira, Yahya, dan Rasmia, mereka mewakili anak-anak Palestina lain yang senantiasa tegar. Di salah satu adegan, Amira mengungkapkan cita-citanya “Jika saya bisa sekolah dengan normal, saya ingin menjadi pengacara supaya bisa menyeret Israel ke pengadilan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya pada kami”. Kebiadaban Israel jelas digambarkan dalam cerita film. Mereka bukan hanya telah membunuh masyarakat sipil namun juga mimpi anak-anak Palestina. Kehidupan mereka selalu dihantui perasaan cemas, terlebih setiap ada pesawat atau helikopter melintas. Tanpa peringatan, bom bisa meledak di mana pun. Film ini sukses membuat penonton meneteskan air mata.
Salah seorang peserta, Dyah L. Fardisa, mahasiswa Politik dan Pemerintahan UGM 2011 mengungkapkan “Acara ini sebagai pembuktian, sesama umat Islam saling menyayangi.” Ia juga menambahkan, acara ini merupakan pengingat bagi kita kalau Palestina perlu diselamatkan. Selain serangkaian acara tersebut, panitia juga menyediakan bentangan kain putih panjang untuk ditandatangani para peserta. Panitia menargetkan akan ada dua ribu tanda tangan terkumpul sebagai bentuk dukungan untuk pembebasan Palestina. Dalam acara ini, juga diadakan penggalangan dana dan ditutup dengan doa bersama. [Linggar Arum S.]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seleksi Asisten Editor Kompas-Gramedia: Tahap I

Selesai seleksi di Bisnis Indonesia, aku pulang ke Jogja hari Selasa keesokan harinya. Lagi-lagi, aku nebeng untuk pulang. Jadi, aku pulang ke Jogja motoran. Sudah agak lama nggak menempuh Jogja-Ungaran motoran, lumayan pegel juga ternyata. Apalagi sehari sebelumnya cukup ngos-ngosan juga, motoran Semarang-Ungaran bolak-balik, liputan, menulis 4 tulisan dalam waktu nggak sampai 3 jam. Ditambah lagi, perjalanan Ungaran-Jogja selama 3 jam di atas motor. Semua itu cukup membuatku lelah dan langsung tidur sesampainya di Jogja. Bangun dari tidur ada sms dari HotNews. Yang kuabaikan, halah paling sms gaje gosip artis dari indosat. Pas ngecek email ternyata ada panggilan psikotes dan tes bidang dari Kompas-Gramedia untuk posisi asisten editor. HotNews itu ternyata dari KPG memberitahukan panggilan peikotes dan tes bidang. Terus terang aku kaget tapi seneng. Kaget karena tes akan diselenggarakan hari Kamis, tanggal 10 Agustus jam 8.00 di Jakarta. Kaget karena ada banyak berkas ...

[Travel] Berburu Senja di Anyer

Perjalanan ke Anyer dari Jakarta bisa dikatakan perjalanan jauh. Apalagi jika naik kendaraan umum, seperti kami. Bagiku, piknik ke Anyer ini adalah piknik paling simpel, paling tanpa fafifu langsung berangkat.  Dari atas Pantai Karang Bolong Kami berangkat Sabtu pagi, dari Jakarta, naik KRL dari stasiun Tanahabang hingga Rangkasbitung seharga 8000 rupiah. Beberapa blog bercerita kalau ada kereta lokal Tanahabang-Merak namun menurut petugas di Stasiun Tanahabang sudah tidak ada KA Lokal tersebut. Perjalanan Stasiun Tanahabang-Rangkasbitung sekitar 2 jam. Sesampainya di Rangkasbitung, lanjut KA Lokal Rangkasbitung-Merak, harga tiketnya 3000 rupiah saja. Nah, untuk ke Anyer, paling enak turun di stasiun kecil bernama Krenceng. Perjalanan Rangkasbitung-Krenceng juga sekitar 2 jam. Jadwal keretanya silakan googling saja. Angkot silver Krenceng-Labuan PP Sesampainya di Stasiun Krenceng, keluar lalu naik angkot silver tujuan Labuan. Pantai-pantai di Anyer bisa dijangkau ...

(Almarhum) Bapak

Bapak berpulang sudah 11 hari ketika tulisan ini pertama kali diketik. Meski Hanum dan beberapa saudara sudah jauh-jauh hari mengabadikan perasaan mereka kehilangan Bapak dalam tulisan tapi aku baru sanggup sekarang. Mengakui kenyataan: Bapak telah berpulang ke sebenar-benarnya rumah. Beberapa hari lalu, aku masih berharap bangun dengan mendapati whatsapp dari Bapak “ Yas, tangi. Salat dhisik .” Tapi ternyata hal itu tidak pernah terjadi. Beberapa hari kemarin, aku bangun dengan mendapati ibu yang menangis, dilanjutkan dengan malam-malam yang menyebut nama Bapak dalam tahlil bersama tetangga dan saudara terdekat. Secepat ini aku menahlilkan Bapak, mengirim Yasin pada Bapak. Tapi ya sudah. Bapak sudah sehat, tenang dan bahagia di sana. Berjalan setapak lebih dekat kebahagiaan terbesarnya: bertemu Allah dan Baginda Rasul Muhammad SAW. Yang bisa kulakukan sekarang adalah mendukung perjalanan Bapak pada kebahagiaan tersebut: mendoakan beliau, sesering dan sebaik mungkin. Soal k...