Langsung ke konten utama

Postingan

Tunggu Sampai Hijau

Ken Wyatt via Unsplash Pagi tadi, lampu merah di Perempatan Kentungan masih tersisa 100 detik lagi sebelum berubah menjadi hijau. Seperti biasa, mataku menjelajah kanan dan kiri, mencari-cari siapa tahu ada baliho baru yang belum sempat kubaca Sabtu kemarin, Jumat kemarin atau delapan puluh sembilan hari yang lalu. Tepat ketika kepalaku menoleh ke kiri. Aku menemukan pemandangan baru di perempatan yang sudah kulewati ke seribu sekian kali. Seorang kakek, badannya agak bungkuk, duduk di kursi plastik hijau sedang dipotong rambutnya oleh seorang perempuan yang kuduga anaknya. Nampak wajah perempuan itu, agak kusut, mulutnya komat-kamit, seperti menggerutu. Rambut kakek berkaos abu-abu kebesaran yang warnanya mulai pudar itu tinggal ditipiskan. Mungkin tak pantas lagi bagi seorang lelaki tua untuk tampil sangar dengan rambut panjang yang awut-awutan. Lampu merah masih menyisakan lima puluh detik lagi. Rambut kakek itu, sudah terpangkas setengahnya. Wajah perempuan itu ma...

2018: Tentang Pulang

Jika benang merah perjalanan tahun 2017 lalu adalah pindah, maka benang merah cerita tahun ini adalah pulang. Salah satu harapan yang kusemai akhir tahun lalu adalah menemukan sesuatu yang bisa kukerjakan dengan bangga. Namun, di akhir tahun 2018 ini, ceritaku bukan tentang apakah aku sudah menemukan sesuatu yang bisa kukerjakan dengan bangga. Tapi tentang pulang. Karena ternyata tahun 2018-ku diwarnai cerita-cerita tentang kepulangan. Mereka yang berpulang Bulan Maret , aku menerima sebuah kepulangan yang cukup mengejutkan. Bapak berpulang. Hanya selang seminggu setelah Ibu mengabarkan Bapak demam. Hanya dua hari setelah Hanum mengabarkan Bapak masuk rumah sakit. Hari Sabtu pagi Bapak masih cukup segar untuk menyuruhku takziah ke tetangga depan rumah kami. Lalu Ahad dini harinya, Bapak juga berpulang. Kepulangan yang sangat mengejutkan, bukan hanya karena beliau adalah bapakku –laki-laki paling dekat denganku –namun juga karena Bapak adalah sosok yang sangat sehat, di ...

Quarter Life Crisis: Hal-hal klise yang baru kusadari ketika 25 tahun (2)

source: freepik Tulisan ini sudah didraft dari entah kapan, saking lamanya. Karena nggak beres-beres yaudahlah memaksakan diri selesai biar bisa jadi ucapan selamat ulang tahun untuk aku sendiri. Dua jam lagi aku akan ulang tahun kedua puluh lima. Dari dulu, selalu berandai-andai gimana rasanya jadi dua lima tahun. Selalu bertanya-tanya akan jadi apa aku di usai dua lima. Karena dari dulu mikirnya dua lima adalah gerbang ke arah mapan dalam hidup, udah nemu career path dan udah punya gandengan yang bisa diajak serius ( somehow aku masih mengamini kalau pernikahan adalah hal yang bikin kita dianggap benar-benar dewasa, milestone kemapanan meskipun di sini lain aku against banget sama yang buru-buru nikah untuk sekadar masuk standar society, if it makes sense ). Ya tapi nggak semudah itu juga Ferguso. Di hidupku, justru perjalanan ke dua lima sungguhlah kacau, cerita tentang kehilangan sambung-menyambung, self pity yang nggak habis-habis, sempat nganggur lama dan bing...

Dana Darurat, Penting Nggak?

source: freepik Barusan banget, IG stories walking dari akun @annisast ke @andaws, mereka berdua lagi membicarakan soal dana darurat. Terus aku juga mau cerita-cerita bagaimana perjuanganku sendiri tersadar akan pentingnya mengatur kehidupan finansialku hingga punya dana darurat. Dana darurat adalah dana yang kita siapkan jika sewaktu-waktu kita mengalami kejadian darurat yang membuat kita tidak bisa bekerja. Selain itu, ketersediaan dana darurat juga bikin hidup lebih tenang karena nggak hidup dari satu gajian ke gajian berikutnya. Besarnya dana darurat sangat bervariasi tergantung dari individu masing-masing, utamanya dihitung dari pengeluaran bulanan dan jumlah tanggungan. Biasanya kalau masih single minimal dana darurat yang harus disiapkan sebesar 3x pengeluaran bulanan, sudah menikah belum punya anak 6x pengeluaran bulanan, dan seterusnya. Tapi misal masih single dan mau nabung dana darurat untuk 6x pengeluaran bulanan juga boleh aja. Aku agak lupa sih kapan mula...

Kompetisi-kompetisi di Antara Perempuan

Designed by Freepik Kenapa perempuan biasanya lebih jahat kepada sesamanya? Pertanyaan yang acap muncul setiap kali seorang perempuan dilecehkan dan perempuan lain justru dengan lebih jahat menyalahkannya. Atas baju yang dikenakan. Atas sikapnya yang (dianggap terlalu) ramah. Atas apa saja yang melekat pada dirinya. Atas apa saja yang dilakukannya. Pertanyaan soal itu lebih sering muncul dibanding bertanya “kenapa masih ada saja laki-laki yang melecehkan perempuan?” Kalau perempuan diminta menutup tubuhnya agar tidak dilecehkan, laki-laki harus menutup apanya agar berhenti melecehkan? Meskipun sebenarnya, korban pelecehan seksual bukan hanya dialami oleh perempuan. Beberapa laki-laki juga mengalaminya. Bahkan dalam kasus Agni beberapa waktu lalu, seorang teman yang juga perempuan bisa bilang, “Tanpa dilecehkan pun, mereka sudah salah karena tidur sekamar.” Ya, mereka melanggar norma masyarakat. Ya, mereka melanggar aturan KKN. Tapi, apakah dengan b...

Dialog Dini Hari #4

“Are you happy?” “Of course, I am. Sekarang jadi jauh lebih tenang, aku pelan-pelan mulai semangat bangun pagi lagi sementara sebelumnya aku benci pagi, bangun, harus kerja. Sampai di titik aku benci diriku sendiri karena masih mau stay padahal jelas-jelas nggak sehat buat mentalku. Everything is getting better.” “Glad to hear that. Bener juga sih. Di sini juga makin lama makin nggak jelas. Sekarang Dia yang ada di titik itu. Males bangun. Masuk kantor jam 9.00 Dia baru bangun 8.30.   So, gimana rasanya pulang?” “Hmm... nggak semengerikan yang kubayangkan sih. Tapi tentu saja banyak yang berubah. Apalagi setelah Bapak nggak ada. Adaptasi lagi juga mau nggak mau. But, everything is fine.” “Masa sih kamu ngeri bayangin pulang ke rumah? Kukira kamu happy.” “Kayaknya aku pernah cerita deh apa yang terjadi di rumah, di Jogja dan kenapa akhirnya pengen pergi dari sini. Ternyata, waktu nggak akan menyembuhkan luka yang mana pun, kecuali kita mengizinkan luka-...

Dialog Dini Hari #3

“Kak, kalau aku nikah tahun depan kamu dateng nggak?” “Dateng, kamu nikah besok pun aku dateng insyaallah.   Emang mau tahun depan, apa besok?” “Emangnya kalau besok mau sama siapa nikahnya?” “Sama jodoh yang dikasih Gusti lah.” “Jodoh tu semacam dua orang yang diciptakan untuk hidup bersama dan memiliki partikel yang cocok dalam tubuh mereka, yang selalu ada selama nyawa ada nggak sih?” “Definisi opersional jodoh tu apa? Harus menikah nggak sama jodoh?” “Hmm, nggak tahu.” “Definisinya dulu lah. Apakah orang yang kita suka udah masuk jodoh? Atau harus sampai nikah? Menurutku, jodoh tu setelah akad. Jadi ya harus nikah. Atau gampangnya, jodoh adalah orang yang kita nikahi. Dengan definisi itu aku sih merasa nggak percaya dengan teorimu di depan tadi. Jodoh berarti kerja bagiku, yang butuh kerja dari kedua belah pihak untuk saling mencocokan diri, karena orang tu terus berubah, kalau pasangan tumbuh kitanya nggak, bisa jadi nggak cocok lagi. Sali...