Langsung ke konten utama

Postingan

Dialog Dini Hari #4

“Are you happy?” “Of course, I am. Sekarang jadi jauh lebih tenang, aku pelan-pelan mulai semangat bangun pagi lagi sementara sebelumnya aku benci pagi, bangun, harus kerja. Sampai di titik aku benci diriku sendiri karena masih mau stay padahal jelas-jelas nggak sehat buat mentalku. Everything is getting better.” “Glad to hear that. Bener juga sih. Di sini juga makin lama makin nggak jelas. Sekarang Dia yang ada di titik itu. Males bangun. Masuk kantor jam 9.00 Dia baru bangun 8.30.   So, gimana rasanya pulang?” “Hmm... nggak semengerikan yang kubayangkan sih. Tapi tentu saja banyak yang berubah. Apalagi setelah Bapak nggak ada. Adaptasi lagi juga mau nggak mau. But, everything is fine.” “Masa sih kamu ngeri bayangin pulang ke rumah? Kukira kamu happy.” “Kayaknya aku pernah cerita deh apa yang terjadi di rumah, di Jogja dan kenapa akhirnya pengen pergi dari sini. Ternyata, waktu nggak akan menyembuhkan luka yang mana pun, kecuali kita mengizinkan luka-...

Dialog Dini Hari #3

“Kak, kalau aku nikah tahun depan kamu dateng nggak?” “Dateng, kamu nikah besok pun aku dateng insyaallah.   Emang mau tahun depan, apa besok?” “Emangnya kalau besok mau sama siapa nikahnya?” “Sama jodoh yang dikasih Gusti lah.” “Jodoh tu semacam dua orang yang diciptakan untuk hidup bersama dan memiliki partikel yang cocok dalam tubuh mereka, yang selalu ada selama nyawa ada nggak sih?” “Definisi opersional jodoh tu apa? Harus menikah nggak sama jodoh?” “Hmm, nggak tahu.” “Definisinya dulu lah. Apakah orang yang kita suka udah masuk jodoh? Atau harus sampai nikah? Menurutku, jodoh tu setelah akad. Jadi ya harus nikah. Atau gampangnya, jodoh adalah orang yang kita nikahi. Dengan definisi itu aku sih merasa nggak percaya dengan teorimu di depan tadi. Jodoh berarti kerja bagiku, yang butuh kerja dari kedua belah pihak untuk saling mencocokan diri, karena orang tu terus berubah, kalau pasangan tumbuh kitanya nggak, bisa jadi nggak cocok lagi. Sali...

Quarter Life Crisis: Badai Pasti Berlalu (1)

Tulisan ini rencananya akan dipublikasikan untuk memperingati ulang tahunku yang ke-25, dua setengah bulan lagi. Tapi rasanya gatal sekali ingin menuliskan, takut keburu lupa pada sensasinya. Rencananya, di umur ke-25 ini aku sudah menemukan jawaban atas pertanyaan kenapa aku diciptakan. Pertanyaan ini sudah menghantuiku selama setidaknya 3-4 tahun belakangan. Jawaban yang kuharapkan adalah aku tahu jelas akan ke mana arah hidupku, punya pekerjaan yang bisa membuatku settle down, punya hubungan romansa yang bisa diharapkan ke tahap yang lebih serius, bisa memberikan lebih banyak untuk orang tua dan sekitar. Dan boom! Tahun ini aku kehilangan dua hal yang kujadikan pijakan, bapakku dan pekerjaanku. Di tahun yang kuharapkan menjadi tahun di mana aku akan settle down ternyata justru jadi tahun di mana aku justru jungkir-balik ke titik nol lagi. Meskipun demikian, aku masih hidup dan cukup waras untuk menulis dan bercerita pada kalian.   Cerita soal bagaimana aku keh...

Dialog Dini Hari #2

“Kayaknya kisah cinta idamanku berubah deh.” “Nggak lagi teman tapi menikah?” “Iya. Kayaknya punya strong relationship dengan orang baru juga menyenangkan.” “Karena teman yang kamu taksir nggak pernah nyadar?” “Asem. Bukan ya, karena ternyata Jogja setelah kepulanganku dari Jakarta, meski terasa akrab tapi tetap terasa nggak tepat. Sebaliknya, Jakarta yang baru saja kukenal dia bisa menyembuhkan banyak luka, membuatku melihat sisi lain dari diriku dan ya bikin aku jatuh cinta pada diriku sendiri dan sama kota itu.” “Hmm, have you found the one like Jakarta? Or you met him in Jakarta ?” “Hahaha. Hmmm.”

Dialog Dini Hari #1

“ Are you free ?” “ No, I’m expensive. ” “ Shit. You know that’s not what I mean .” “Hahaha. Iya selo kok, udah pulang kerja, udah mandi, udah makan.” “ Good . Aku mau cerita boleh?” “Boleh dong, ngapain tanya dulu. Kayak biasanya aja sih.” “Hahaha. Hmmm, aku kok merasa aku dikerubungi dementor gitu, rasanya hopeless dan negatif terus. Perasaan nggak berguna yang sudah setahunan ini menggangguku rasanya nggak hilang-hilang. Aku udah coba berbagai cara kayaknya. Take my time, take a break, paused my life . Sampai akhirnya aku sadar kalau untuk menghasilkan patronus corporeal, aku harus punya ingatan menyenangkan yang kuat, membiarkannya memenuhi diriku dan say the spell ‘Expecto patronum!’ tapi nggak tau kenapa rasanya susah sekali mengingat satu saja kenangan manis yang kuat di tengah-tengah dementor ini. So, I’m just wondering if you can help me, be Remus Lupin for Harry Potter .” “Nggak ah. Aku mau jadi Dumbledore aja ‘happiness can be found. Even...

(Almarhum) Bapak

Bapak berpulang sudah 11 hari ketika tulisan ini pertama kali diketik. Meski Hanum dan beberapa saudara sudah jauh-jauh hari mengabadikan perasaan mereka kehilangan Bapak dalam tulisan tapi aku baru sanggup sekarang. Mengakui kenyataan: Bapak telah berpulang ke sebenar-benarnya rumah. Beberapa hari lalu, aku masih berharap bangun dengan mendapati whatsapp dari Bapak “ Yas, tangi. Salat dhisik .” Tapi ternyata hal itu tidak pernah terjadi. Beberapa hari kemarin, aku bangun dengan mendapati ibu yang menangis, dilanjutkan dengan malam-malam yang menyebut nama Bapak dalam tahlil bersama tetangga dan saudara terdekat. Secepat ini aku menahlilkan Bapak, mengirim Yasin pada Bapak. Tapi ya sudah. Bapak sudah sehat, tenang dan bahagia di sana. Berjalan setapak lebih dekat kebahagiaan terbesarnya: bertemu Allah dan Baginda Rasul Muhammad SAW. Yang bisa kulakukan sekarang adalah mendukung perjalanan Bapak pada kebahagiaan tersebut: mendoakan beliau, sesering dan sebaik mungkin. Soal k...

(Jangan) Menyerah

Source:pixabay Dulu, aku adalah orang yang akan berusaha mempertahankan apa yang ada di genggamanku erat-erat. Tak ada kata menyerah dalam hidupku. Apa yang aku inginkan, harus kudapatkan. Bagaimana pun caranya, seperti apapun berdarah-darahnya aku akan perjuangakan. Tapi itu dulu. Ketika pemahaman telah bertambah, ketika hidup mulai terasa semakin berat dengan cara seperti itu maka aku memilih untuk memasrahkan banyak hal dalam hidupku ke tangan-Nya. Aku jauh lebih selo, memandang hidup. Tapi ya ujian berjalan terus. Ada kalanya sesuatu yang ingin kugenggam tapi ternyata memang sepertinya bukan rejeki. Seperti sekarang. Ada hal yang ingin kugenggam, kupertahanan, karena aku butuh. Tapi susah, susah sekali. Rasanya, hal ini memang bukan sesuatu yang ditakdirkan untuk pas di genggamanku. Ada banyak saat ketika aku mati-matian meyakinkan diriku sendiri bahwa it’s ok to feel not ok . Aku menepis perasaan tidak nyaman, mengingkari firasatku, dan berusah terus belaja...