Langsung ke konten utama

Dilema Keseloan



Pertemuan ketiga Mujahid Skripsi sebenarnya sudah direncanakan entah sejak berapa waktu lalu. Sekian waktu berjalan, rencana itu tinggal wacana yang dibicarakan berulang-ulang tanpa realisasi. Awal Ramadhan lalu, saya menyinggung lagi wacana kumpul-kumpul. Tapi, nampaknya kami memang belum jodoh karena Fadel yang masih sibuk ini-itu, sebagai kader terbaik bangsa-pinjam istilah Dias, dan juga sebagai asisten Pak Prof. Belum lagi Nisa harus pergi keluar kota selama beberapa waktu untuk penelitian-biasalah proyekan. Dias juga, sibuk penelitian ini-itu, datang diskusi sana-sini, dan aku ehem selo selalu haha.

Ya sudah lah ya, hukum alam berlaku di sini: orang selo mengikuti yang tidak selo. Aku cuma bisa nunggu jadwal mereka yang padat menjadi agak selo. Hingga akhirnya, penantian orang selo ini berujung juga pada tanggal 8 Juli, kemarin. Kami ketemuan di sebuah warung sembari buber.

---

Makanan yang kami pesan datang terlambat, lha iyo, wong mesene wae pas adzan maghrib og. Setelah Nisa dan Fadel salat pun makanan itu belum juga datang. Kami sih selo  aja. Nunggu makanan kami ngobrol ngalor-ngidul, menanyakan kabar skripsi masing-masing lalu ngupdate berita kesibukan masing-masing, cerita soal mau apa ke depan, dan sisanya ngomongin orang haha.

Emang Mujahid Skripsi ini bukan sekelompok orang keren kok, hambok yaqin. Kami ini hanya orang-orang yang menyelokan diri untuk sekadar diskusi, ngobrol ngalor-ngidul, nyelo sejenak kala dunia menuntut untuk terus-menerus berlari. Zaman ini memang menuntut kita untuk terus-terusan lari, ketika mahasiswa ditanya kapan lulus, sudah lulus ditanya kapan kerja, sudah kerja ditanya kapan nikah, gituuuuuuu terus. Njuk kadang, kita capek menjadi orang dewasa yang harus selalu terlihat gagah, kuat, dan perkasa. Terus nggak boleh galau-menye-menye lagi. Sampai akhirnya kadang kita lelah jadi orang dewasa. Nah diskusi ini sebenarnya menjadi ruang buat selonjoran dan menghela nafas panjang, nyelo dari riuh-rendah kesibukan dunia.

Apa sih enaknya buru-buru? Makan bakso paling enak pun jika diwektoni kudu rampung semenit ndak yo enak bakso iku? Nah, kalau bakso saja perlu dikunyah pelan-pelan, bahkan Baginda Rasul memerintahkan dikunyah 33 kali, masa hidup ini harus serba cepat-cepat. Pada kunyahan-kunyahan itulah letak kenikmatannya makan. Nah hidup juga begitu, selo itu perlu, bahkan berharga.

Kami menutup pelajaran menikmati keseloan ini dengan sowan pada Cak Nun. Beliau, yang dengan perlahan-lahan mengajari kita mengunyah informasi yang berseliweran melimpah di zaman ini untuk kemudian menelannya sebagai pemahaman yang baik dan melahirkan logika yang lurus. Percayalah, tanpa keseloan yang cukup kita hanya akan makin tersesat di antara riuh-rendah dan semrawutnya dunia.

Di sisi yang lain, nampaknya keseloan ini sudahlah cukup. Kuliah sembilan semester ndak yo kurang selo dan kurang menikmati? Toh, sudah makin banyak kawan yang lulus. Apalagi, diskusi dan kumpul-kumpul macam begini juga ndak haram dilakukan jika sudah lulus, ya to ya to? Sembilan merupakan bilangan asli yang paling puncak, ini semacam pertanda dari semesta bahwa masa studi kita juga baiknya diakhiri di hitungan ini.

Mungkin kita dan banyak kawan lain kadung terjebak (atau menjebakkan diri?) dalam comfort zone bernama status (quo) mahasiswa. Ini yang kadang bikin kita malas dan justru mencari-cari alasan untuk nyelo-nyelo ora gek ndang menyelesaikan skripsi. Mujahid Skripsi ini semacam usaha untuk saling tolong-menolong, utamanya bagi saya yang not-self-motivated person, untuk move on dari zona nyaman ini.

Selo dan keseloan itu memang asyik dan perlu. Tapiiiiiiii, ada hitungan semester yang terus bertambah, bukan cuma bertambah je mbayar terus pula :p, dan terakhir lagi-lagi skripsi ini bukan cuma tentang kita. yang ngerjain mungkin memang kita tapi ada orang tua dan keluarga besar yang mengharapkan kelulusan kita (dan calon pasangan bagi yang sudah punya).

---

Dah lunas ya?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seleksi Asisten Editor Kompas-Gramedia: Tahap I

Selesai seleksi di Bisnis Indonesia, aku pulang ke Jogja hari Selasa keesokan harinya. Lagi-lagi, aku nebeng untuk pulang. Jadi, aku pulang ke Jogja motoran. Sudah agak lama nggak menempuh Jogja-Ungaran motoran, lumayan pegel juga ternyata. Apalagi sehari sebelumnya cukup ngos-ngosan juga, motoran Semarang-Ungaran bolak-balik, liputan, menulis 4 tulisan dalam waktu nggak sampai 3 jam. Ditambah lagi, perjalanan Ungaran-Jogja selama 3 jam di atas motor. Semua itu cukup membuatku lelah dan langsung tidur sesampainya di Jogja. Bangun dari tidur ada sms dari HotNews. Yang kuabaikan, halah paling sms gaje gosip artis dari indosat. Pas ngecek email ternyata ada panggilan psikotes dan tes bidang dari Kompas-Gramedia untuk posisi asisten editor. HotNews itu ternyata dari KPG memberitahukan panggilan peikotes dan tes bidang. Terus terang aku kaget tapi seneng. Kaget karena tes akan diselenggarakan hari Kamis, tanggal 10 Agustus jam 8.00 di Jakarta. Kaget karena ada banyak berkas ...

[Travel] Berburu Senja di Anyer

Perjalanan ke Anyer dari Jakarta bisa dikatakan perjalanan jauh. Apalagi jika naik kendaraan umum, seperti kami. Bagiku, piknik ke Anyer ini adalah piknik paling simpel, paling tanpa fafifu langsung berangkat.  Dari atas Pantai Karang Bolong Kami berangkat Sabtu pagi, dari Jakarta, naik KRL dari stasiun Tanahabang hingga Rangkasbitung seharga 8000 rupiah. Beberapa blog bercerita kalau ada kereta lokal Tanahabang-Merak namun menurut petugas di Stasiun Tanahabang sudah tidak ada KA Lokal tersebut. Perjalanan Stasiun Tanahabang-Rangkasbitung sekitar 2 jam. Sesampainya di Rangkasbitung, lanjut KA Lokal Rangkasbitung-Merak, harga tiketnya 3000 rupiah saja. Nah, untuk ke Anyer, paling enak turun di stasiun kecil bernama Krenceng. Perjalanan Rangkasbitung-Krenceng juga sekitar 2 jam. Jadwal keretanya silakan googling saja. Angkot silver Krenceng-Labuan PP Sesampainya di Stasiun Krenceng, keluar lalu naik angkot silver tujuan Labuan. Pantai-pantai di Anyer bisa dijangkau ...

(Almarhum) Bapak

Bapak berpulang sudah 11 hari ketika tulisan ini pertama kali diketik. Meski Hanum dan beberapa saudara sudah jauh-jauh hari mengabadikan perasaan mereka kehilangan Bapak dalam tulisan tapi aku baru sanggup sekarang. Mengakui kenyataan: Bapak telah berpulang ke sebenar-benarnya rumah. Beberapa hari lalu, aku masih berharap bangun dengan mendapati whatsapp dari Bapak “ Yas, tangi. Salat dhisik .” Tapi ternyata hal itu tidak pernah terjadi. Beberapa hari kemarin, aku bangun dengan mendapati ibu yang menangis, dilanjutkan dengan malam-malam yang menyebut nama Bapak dalam tahlil bersama tetangga dan saudara terdekat. Secepat ini aku menahlilkan Bapak, mengirim Yasin pada Bapak. Tapi ya sudah. Bapak sudah sehat, tenang dan bahagia di sana. Berjalan setapak lebih dekat kebahagiaan terbesarnya: bertemu Allah dan Baginda Rasul Muhammad SAW. Yang bisa kulakukan sekarang adalah mendukung perjalanan Bapak pada kebahagiaan tersebut: mendoakan beliau, sesering dan sebaik mungkin. Soal k...